Membangkitkan Kembali Generasi Cerdas Mulia Lewat Kurikulum Al Qur’an

islam-cerdas

Beberapa bulan yang lalu yang media melansir berita penganiayaan terhadap pelajar karena persaingan tato Hello Kitty. Tidak hanya itu, pembegalan yang marak terjadi di ibukota sebagian pelakunya juga adalah pelajar. Kasus kenakalan remaja, mulai dari aborsi, seks bebas, narkoba, geng motor, dan tawuran merupakan hal yang cukup meresahkan. Tidak hanya bagi masyarakat, juga orangtua dan guru sebagai pendidik.

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) 22 % pengguna narkoba adalah para pelajar. Setelah heboh masalah tato Hello Kitty, media juga ramai memberitakan tentang pesta bikini yang akan dilakukan oleh pelajar untuk merayakan kepenatan setelah ujian nasional. Tidak hanya itu, 98% remaja juga sudah melakukan hubungan seks bebas. Indonesia bahkan dikatakan negeri paling “porno” sebagai peringkat pertama pembeli terbesar video pornografi dengan pembelian mencapai Rp. 50 Triliun, dan sebagian pengakses video porno tersebut adalah remaja/pelajar.

Indonesia mengkoleksi kedaruratan, mulai dari darurat koruptor, darurat narkoba, dan darurat zina. Dari semua kedaruratan yang terjadi, darurat zina-lah yang paling membahayakan dan merugikan. Dikatakan paling berbahaya karena zina inilah yang menjadi akar dari sebuah kehancuran dan keruntuhan suatu negara. Zina yang dilakukan oleh remaja akan berakibat fatal seperti hamil, aborsi dan terkena penyakit HIV AIDS. Jika semua remaja sudah bersifat amoral, lama kelamaan estafet pembangunan bangsa akan terputus dan hilang ditelan sebuah kejahatan.

indonesia-negeri-darurat-zina-by-hafidz341-1-638

Sebuah tanda tanya besar, sebenarnya apa yang sekolah ajarkan hingga membuat pelajar dari hari ke hari menjadi semakin tidak terkendali dan terpuruk ke dalam lembah yang buruk . Padahal sekolah sudah menyediakan bimbingan konseling, penyuluhan dan seminar dari berbagai institusi terkait untuk menanggulangi berbagai kenakalan remaja khususnya masalah seks bebas. Beberapa tahun yang lalu menteri pendidikan juga menerapkan pendidikan karakter dalam tiap pelajaran. Ternyata cara itu juga tidak cukup ampuh. Karakter cerdas dan mulia tidak nampak dalam sikap pelajar bahkan membabi buta tak terkendali.

Akar permasalahan ini adalah karakter dan moral. Ya, pelajar kita kehilangan karakter dan moral. Pendidikan yang didapat di sekolah kering dari menyirami jiwa siswa. Menurut Albert Einstein “Dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing”. Pelajar adalah manusia dan bukan seekor anjing tapi sistem yang ada melahirkan “anjing-anjing” yang berperilaku bebas tak terbatas. Secara intelektual Indonesia cukup berhasil menciptakan generasi cerdas, terbukti dari banyaknya pelajar yang meraih medali atau piala di ajang-ajang Internasional. Tapi untuk urusan akhlak, Indonesia masih tertinggal jauh dari negara yang mayoritas muslim seperti Malaysia dan Brunei.

dimana-moral-bangsa-indonesia

Solusi terbaik yang paling efektif untuk membangkitkan kembali geliat akhlak mulia pada pelajar adalah menerapkan kurikulum al Qur’an di sekolah. Salah satu kota yang sudah menerapkan kurikulum tersebut di sebagian sekolah negeri adalah kota Makassar. Ustadz Yandri, pendiri Rumah Tahfidz Ta’, menggagas program yang tidak hanya menjadikan al-Qur’an sebagai ekstrakurikuler tapi juga mata pelajaran wajib yang dimasukkan ke dalam jam pelajaran seperti halnya pelajaran umum. Selama ini di Indonesia, negara yang mayoritasnya muslim, agama dianggap hanya cocok diajarkan di sekolah agama atau pesantren. Di sekolah umum lebih cocok untuk ilmu dunia. Generasi kita hanya diajarkan ilmu dunia, ilmu agama dijauhkan, kalaupun ada dengan porsi 2 jam dalam seminggu tidaklah cukup. Padahal mayoritas pelajar muslim berada di sekolah umum bukan di sekolah agama/pesantren. Mayoritas pelajar tidak banyak yang bisa meluangkan waktunya untuk kembali belajar quran ataupun agama diluar sekolah, karena kesibukan lain, dan tidak semua pula orangtua bisa secara penuh memberikan pendidikan ilmu agama secara benar.

Gagasan program tahfidz Qur’an tersebut adalah siswa SD diwajibkan menghafal 1 juz per tahun, SMP 3 juz per tahun, dan SMA juga 3 juz per tahun. Bukan suatu keniscayaan jika siswa hafal Qur’an 30 juz ketika lulus dari bangku SMA.

unnamed

Apa yang menarik dari menghafal Qur’an. Menghafal alquran begitu banyak mengadung keutamaan dan kemuliaan. Menghafal al Qur’an dapat menumbuhkan ketenangan sehingga memberi pengaruh efek positif bagi moralitas remaja. Al Quran adalah cahaya. Jika cahaya sudah memenuhi rongga dada dan hati remaja, cahaya itulah yang memberikan tuntunan ke arah yang benar. Cahaya inilah yang mampu membuat mereka tersadar untuk tidak melakukan dari hal-hal yang menyimpang. Jiwa remaja tanpa adanya alquran yang bersemayam, membuat mereka kering dan hilang arah. Al Quran akan menjadi cahaya penyejuk karena al-quran sebuah kitab yang mulia tidak akan bersanding atau digabungkan dengan hal-hal buruk.

Dalam hal ini peran pemerintah sangat diperlukan untuk menetapkan al-Qur’an sebagai kurikulum wajib di sekolah-sekolah yang ada di indonesia. Dengan adanya program tahfidz di sekolah, bisa turut memaksimalkan peran para hafidz/ah yang ada di Indonesia, notabenenya para sarjana agama kesulitan mencari tempat untuk mengabdikan ilmu agama karena sekolah tidak perlu banyak guru agama. Semua penganut agama pasti setuju bahwa agamalah yang berperan besar untuk membentuk karakter seseorang. Agama yang berkesinambungan menanamkan hal-hal baik. Siswa non Muslim yang ada di sekolah negeri tersebut, juga harus disediakan mata pelajaran khusus kitab agama Jika semua agama bersinergi menguatkan ajaran baiknya pada anak-anak sesuai dengan keyakinan yang dipeluk, tentu anak-anak menjadi pribadi yang lebih berkarakter.

Semakin tinggi intensitas dengan al quran maka akan semakin tinggi moralitas remaja. Agar ke depannya seks bebas yang sudah sedemikian akutnya menyerang bumi Indonesia hilang tak berbekas.

Harapannya dengan menghafal al-quran dapat terbentuk generasi cerdas mulia yang akan berdampak pada bangkitnya citra pendidikan dan peradaban bangsa Indonesia yang lebih baik.

Ketika kemaksiatan telah diabaikan, maka lembaga pendidikan hanya akan melahirkan para pendurhaka yang genius. Mereka intelek, tapi akhlaknya jelek. Otaknya brilian, tapi tak tak punya iman. Dan ingat, bejatnya orang cerdas lebih bahaya daripada yang bego.

[Ahmad Rifa’i Rif’an]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s