INDONESIA, MUTIARA DALAM LUMPUR

INDONESIA, MUTIARA DALAM LUMPUR

 

“Berkenaan dengan tema Indonesia disebut sebagai Bangsa yang Lembek, Benarkah? Yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul Civis Pacem Parabellum di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena kondisi inilah yang menggambarkan siang malam denyut nadi Indonesia. Setidaknya kita menggambarkan Indonesia bak mutiara dalam lumpur. Belum bercahaya, sesekali cahaya, redup kembali.

MUTIARA POLITIK

MONEY POLITIK

Jika bicara politik maka kita akan langsung menuju sebuah pemikiran bernama pemilu. Helatan akbar yang diajangkan lima tahun dalam sekali ini menjadi sebuah polemik yang menimbulkan luka, dusta, janji, dan hal-hal negatif yang memperparah keadaan rakyat di negeri ini.

Pertama, money politics. Banyak uang partai disayang, tak ada uang partai ditendang. Setiap mendekati pemilukada misalnya, maka berbondonglah calon-calon bupati bersama tim suksesnya berkunjung ke desa terpencil untuk sosialisasi. Tepatnya sosialisasi uang. Datang ke acara resepsi, arisan ibu-ibu. Bicara sepatah dua patah kata, langsung pada inti membagikan uang walaupun berbentuk lain semisal piring, kerudung, dan lain-lain. Ya, walaupun di ujung pertemuan berkata: kedatangan kami kesini untuk silaturahmi dan sekedar berbagi, masalah nanti dipilih ataupun tidak tergantung pada hati nurani masing-masing.

UU Nomor 8 tahun 2012 pasal 301 menyebutkan praktik money politik itu dilarang saat melakukan kampanye. Aneh sekali dari Undang-Undang di atas, seolah mengisyaratkan bahwa money politik yang dilakukan diluar kampanye adalah sah. Belum lagi diperparah dengan pemikiran masyarakat yang penting terima uangnya, kalau datang partai lain, kita terima lagi uangnya, kita tidak minta, kalau nanti mereka sudah jadi mereka tidak ingat lagi, nikmati uangnya sekarang. Siapapun yang terpilih, pekerjaan kita tak berubah, kita tetap miskin. Beginilah kondisi masyarakat Indonesia rela menggadaikan kursi kepemimpinan selama lima tahun dengan uang pada rentenir politik. Seolah mereka lupa bahwa dalam lima tahun ke depan bisa saja jika tampuk pimpinan itu dipegang oleh orang-orang tidak amanah maka akan terjadi kerusakan yang amat besar. Kedua, percaya takhayul, salah satu manusia Indonesia versi Mochtar Lubis. Rupanya, ini juga berlaku untuk kalangan poltik. Dilansir dalam koran Banjarmasin Post seorang bapak bernama Rosyady membuka bisnis jasa dukun politik. Memang yang dilakukan Rosyady terbilang unik, dia mensyaratkan para calon harus memenuhi tiga syarat yaitu: memikirkan rakyat, ikhlas, dan tidak curiga. Walau syaratnya begitu banyak peminatnya,  walaupun pada ujung-ujungnya yang diminta adalah imbalan jasa. Beginikah calon pemimpin kita? Ketiga, simbolisme agama. Mukhtar Saman mengatakan “ kalau ada pendidikan politik yang baik harusnya masyarakat diarahkan pada visi-misi dan program. Tapi ini justru diarahkan pada simbolisme agama”. Waktu itu saya berkunjung ke rumah teman. Ayahnya mengajak berdiskusi masalah calon pemimpin. Pernyataan beliau sungguh sangat mengena “dulu saya begitu pro dengan calon-calon yang membawa nama Islam, bergelar kyai atau Habib semisalnya. Namun, pada akhirnya saya berpikir para kyai tersebut sudah menyelewengkan tugas besar sebagai pendidik. Kalau mau mengurus ummat, fokuskan mengurus ummat. Tapi ya bukan berarti pemimpin nanti orang yang tidak punya aturan agama yag baik”. Sadar atau tidak, masyarakat Indonesia lebih mudah terbius dengan hal-hal yang berbau agama. Penganut agama Islam ini lupa, bahwa ada banyak agama lain yang juga berhak sebagai pemilih. Kadang. Terlalu bersikap anarkis. Banyak pemimpin yang status agamanya Islam. Toh, juga korupsi. Ruth Benedict dan F.K.L HSU menuliskan ada dua budaya, shame culture (budaya malu) dan guilt culture (budaya bersalah). Rupanya pejabat korupsi itu mengidap shame culture. Budaya malu, sebatas kehilangan muka saat terbukti korupsi, hanya sementara. Namun kemudian berlenggak-lenggok dengan pongah bak peragawati. Budaya korupsi yang mengakar kuat ini semoga bisa dibakar habis sampai keakar-akarnya. Keempat, Social Darwinism. Mujiburrahman menyebutkan demokrasi di Indonesia bersifat social Darwinism, yang kuat bertambah kuat dan yang lemah tergilas. Padahal di negara Barat sana menganut Social Welfare System, yang menjamin anak-anak terlantar, dan lain-lain. Indonesia memang lebih mengedepankan riasan kosmetik agar wajah Indonesia semakin cantik dengan membangun gedung bertingkat daripada membereskan para pengemis jalanan, pendidikan pelosok yang tak terjangkau, banjir yang tak kunjung usai. “Tidak mungkin mewujudkan visi ekonomi kerakyatan tanpa sumber dana APBN yang memadai untuk program pro rakyat, komitmen pada penciptaan akses permodalan yang luas bagi rakyat kecil dan kesempatan berusaha yang tidak terkendala oleh pagar kekuatan pengusaha dan penguas. Karena itu mari pilih capres yang lahir batin dapat menjadi teladan dalam pembayaran pajak dan mampu mengendalikan diri/keluarga/kerabat dari praktek bisnis dan kolusi karena hal itu membatasi peluang rakyat banyak” demikian kutipan yang ditulis Darwin Saleh dalam artikel berjudul Semua Capres Mengedepankan Rakyat.

MUTIARA PEREMPUAN

perempuan

Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, maka baiklah negaranya. Jika perempuannya rusak, maka rusaklah negaranya. Begitulah pepatah yang sering kita dengar. Atau ada pepatah lain semisal dibalik lelaki yang sukses, ada perempuan hebat di belakangnya. Lalu jika dibalik lelaki yang ‘korupsi’ apakah ada perempuan salah di belakangnya? Perempuan. Tiang. Sukses. Perpaduan yang layak untuk kita kaji. Perempuan zaman sekarang mendapat hak memasuki kancah politik. Lalu demikian perempuan juga ikut-ikutan berpolitik. Ujung-ujungnya ya sama, korupsi. Lebih dari 10 wanita sudah mendiami istana KPK bernama penjara. Tugas perempuan sebagai ibu bagi anak-anaknya sudah merupakan amanah terbesar agar dapat menciptakan generasi hebat mulia. Bukan menambah beban di pundak sendiri bertarung dengan para lelaki di dunia politik.

MUTIARA PEMUDA

demo

“Berikan aku 1000 orangtua, akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Luapan kata-kata dari Soekarno begitu bergemuruh, menjadi pijakan pasti bahwa pemuda pada masanya begitu tangguh, luar biasa, dan berkarakter hebat. Pemuda era milenium ini banyak menyulap diri menjadi penari-penari bak perempuan. Mencuri simpati dari para ABG labil untuk memperkaya pundi-pundi emas. Toh, kalaupun ada pemuda bernama mahasiwa yang berperan sebagi agent of change malah menjadi agent of problem. Agen masalah dan perusak, itulah mereka yang demo-demo di jalanan. Demo yang merusak. Menyemprotkan air keras ke lawannya. Merusak fasilitas umum. Tanpa memikirkan berapa kerugian negara yang ditanggung. Tidak sampai disana, banyak sudah pelajar yang terlibat dalam jeratan narkoba, minuman keras,bahkan seks bebas.

“Wahai para mahasiswa tulang punggung banngsa. Tugasmu bukan saja mencari ilmu untuk dirimu sendiri. Kalian harapan bangsa kita, untuk menjadi garda pembangunan bangsa ini ke depan agar dapat mewujudkan negara yang stabil dan sejahtera. Berpikirlah kritis! Apa yang harus diubah dari negeri ini bila kita ingin menguatkan? Hidupkan kehidupan kampus yang kritis, dinamis serta berpikir positif. Bangun Ayo Bangun! Demonstrasi bukan sesuatu yang harus dihindari. Tetapi demonstrasi tidak harus turun ke jalan yang kadang mengganggu kelancaran lalu lintas. Menghidupkan critical thinking untuk setiap kejadian di negeri ini jauh lebih penting. Kalau perlu laporkan ke Mahkamah konstitusi bila ada Undang-Undang yang ternyata mencelakakan rakyat negeri ini”. Demikian pidato dari Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) seorang mantan Menteri Kesehatan RI yang dimuat dalam novelnya Tatkala Leukimia Meretas Cinta.

MUTIARA BUDAYA

penyadapan

Indonesia negara luas dengan berbagai macam aksesori keindahan alam yang diciptakan Tuhan. Rupanya kecantikan ini menjadi ajang rebutan bagi negara tetangga. Coba saja kita renungkan, permasalahan dengan Malaysia yang berhubungan Pulau Sipadan dan Ligitan, Blok Ambalat, Lagu Rasa Sayange, Alat musik Angklung. Lalu tidak sampai disitu. Permasalahan kabut asap yang terjadi di Kalsel, Sumatera dan Papua. Lagi-lagi Indonesia menjadi pihak tersalahkan Padahal perusahaan kelapa Sawit pemiliknya Malaysia dan Singapura. Indonesia sebagai negara yang dijadikan investasi harusnya bisa menolak secara hukum pembukaan lahan kelapa Sawit. Pemerintah harusnya tidak hanya memikirkan agar rakyat bisa memiliki pekerjaan tanpa mempertimbangkan kesejehteraan rakyat. Rakyat kita menjadi kuli di negeri sendiri dan masternya adalah negara lain.

Kasus penyadapan yang dilakukan oleh pihak Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menuai reaksi dari berbagai pihak. Presiden SBY hanya menulis di twitter “Tindakan penyadapan oleh Amerika Serikat dan Australia jelas telah merusak kemitraan startegis dengan Indonesia sesama negara penganut sistem demokrasi. Indonesia menuntut Australia memberikan jawaban resmi yang didapat dipahami publik terkait isu penyadapan terhadap Indonesia. Namun jawaban sang perdana Australia terhadap Indonesia yang diwakili oleh Perdana Menteri Tony Abbot bahwa setiap pemerintah mengumpulkan informasi, dan mereka (Indonesia) pun tahu bahwa pemerintah negara lain melakukan hal serupa. Itu sebabnya kami mengumpulkan informasi intelijen. Abbot pun menjamin informasi dari Badan Intelijen Australia tidak akan digunakan untuk hal-hal buruk.

Berarti masalah penyadapan ini lumrah di negeri Barat. Dan harusnya Indonesia bisa menciptakan resolusi tekhnologi yang lebih canggih agar kasus penyadapan tidak terulang lagi. Mengutip pernyataan Darwin Saleh dalam artikel berjudul Civis Pacem Parabellum “kalau ingin damai, kita harus siap berperang. Kesiapan berperang, membutuhkan anggaran dan alutsista yang kuat. “Kuatkah kita saat ini? Masih banyak PR kita sendiri yang harus kita kerjakan. Sementara ini kita masih harus berperang dengan diri sendiri, agar disiplin, agar kuat, agar tidak korupsi, dan lain sebagainya, agar mampu menggetarkan tetangga-tetangga kita yang kurang ajar”.

Apapun kondisi Indonesia kita saat ini. Kita berterimakasih pada bumi yang memberikan tanahnya untuk kita tinggali. Pada pimpinan yang amanah lagi jujur. Satu harapan besar untuk Indonesia kembali bercahaya seperti mutiara adalah terus berdoa agar ada sebuah masa Tuhan menganugerahi negara ini dengan pemimpin yang berkualitas negarawan bukan politikus semata.

Tabalong, 30 Januari 2014.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.darwinsaleh.com. tulisan adalah karya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s