BANGANGA DAHULU HANYA BAUCAP

BANGANGA DAHULU HANYA BAUCAP

Dunia semakin canggih, teknologi semakin merambah ke berbagai sisi, salah satunya media sosial. Dimana setiap orang mudah untuk berinteraksi, berekspresi, dan lain sebagainya. Tapi apakah dengan kemajuan itu turut diikuti dengan perilaku tutur kata yang sudah baik. Banganga Dahulu Hanyar Baucap. Sebuah ungkapan yang kudapat saat kelas 5 SD pada pelajaran menulis indah. Ya. Sebuah ungkapan sederhana berbahasa Banjar “Banganga Dahulu Hanyar Baucap”. artinya adalah Berpikir Dulu Sebelum Berucap. Ya, walaupun secara kata maksud dari banganga adalah mulut yang menganga. Artinya setiap insan harus memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berpikir sebelum mengeluarkan kata apa yang akan diucapkan. Banyak kita temukan, masyarakat Indonesia khususnya, tidak lagi memikirkan apa isi atau subtansi dari apa yang diucapkan. Misal saja di jejaring sosial, facebook, tiwtter, path, dan lain-lain. Masyarakat merasa “liar” untuk berkespresi dalam kata. Langsung menuliskan apa yang dirasakan, entah itu emosi, marah, galau, dan lain sebagainya. Banyak kita lihat di status atau tweet anak-anak muda bergaya alay, lebay, dsb, ada juga kata yang langsung menyinggung orang lain.
Contoh saja kasus terbaru yang dialami Florence Sihombing. Ia berurusan dengan pihak kepolisian hanya karena menuliskan kemarahan dan kekesalannya terhadap pom bensin yang ada di yogya, menghina yogya, padahal ia sendiri adalah seorang mahaswiwa magister di sebuah perguruan tinggi. Lalu ada lagi yang dilakukan @kemalsept yang melakukan penghinaan terhadap kota Bandung juga memunculkan reaksi keras dari wali kota Bandung, Ridwan Kamil. Tidak sampai disitu, ada pengacara Farhat Abbas yang hobi menuliskan status panas yang memancing emosi dari artis lain.
Fenomena Hijaber dan Jilbob pun ikut memperlihatkan bagaimana kondisi masyarakat dalam mengekspresikan kata-kata melalui komentar. Terhadap artis-artis pencari sensasi pun mereka giat “membully” dengan ejekan dan hinaan. Kalau sudah begini, tidak ada lagi keindahan dari berbahasa. Atau pada masa pemilu 2014 kemarin orang-orang begitu mudah mengkritisi mana calon yang baik atau buruk, membandingkan satu dengan lainnya dengan cara yang sudah diluar batas. Pun topik terbaru yang lagi hangat yaitu tentang diputuskan UU Pilkada melalui DPRD, reaksi kata-kata berbagai macam terjadi, terlebih terhadap pemimpin negara, yang harusnya kita hormati, orang-orang bahkan tidak menjaga agar bagaimana tulisannya lebih sopan dan berwibawa.
Mungkin langkah awal yang harus diperbarui adalah melalui pendidikan, yaitu kecerdasan etika dalam berbahasa. Pendidikan adalah langkah awal untuk melahirkan genrasi masyarakat Indoensia yang berbudaya secara bahasa. Sebab, yang terjadi sekarang adalah sekolah lebih memilih memperjuangkan bagaimana siswa-siswanya tampil bagus secara akademik, tapi dari segi etika bahasa mengalami penurunan. Pendidikan tidak hanya tanggungjawab pemerintah, juga tanggung jawab guru dan orangtua serta lingkungan. Memberikan kesempatan atau ruang untuk “banganga” sebelum berbicara akan menghasilkan generasi yang lebih baik dalam hal komunikasi. Tidak sekedar ceplas-ceplos dan sembarangan.
Kata-kata lebih tajam dari pedang. Tidak salah jika orangtua dahulu menasehatkan ungkapan Banganga Dahulu Hanyar Baucap adalah untuk memberikan ruang agar berpikir apakah kata yang kita ucapkan atau tuliskan bermanfaat, bernada baik, atau malah menimbulkan penyesalan dan kerugian. Kata-kata menjadi sambung suara kepada orang lain. Hendaknya diolah dengan cara yang benar, dipikirkan dengan pertimbangan hati.
Orang Indonesia berbudaya Timur, dikenal karena keramahannya. Jangan sampai budaya ramah itu tercerabut hanya karena masyarakat Indoensia tidak lagi memiliki cara berbicara yang sopan.

TULISAN INI DISERTAKAN DALAM KONTES GA SADAR HATI-BAHASA DAERAH HARUS DIMINATI
banner

 

2 respons untuk ‘BANGANGA DAHULU HANYA BAUCAP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s